NEW

new

Edukasi Kesehatan: Bahaya Penggunaan Gadget Berlebihan pada Remaja

Edukasi Kesehatan: Bahaya Penggunaan Gadget Berlebihan pada Remaja Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh SahabatPKU 🙏 RS PKU Aisyiyah Boyolali kembali menghadirkan kegiatan Edukasi Kesehatan (Psikoedukasi) dengan mengangkat tema Bahaya Penggunaan Gadget pada Remaja yang dilaksanakan di MTs Modern Bani Adam Boyolali. Kegiatan edukasi ini disampaikan oleh Gita Anindya Puteri, M.Psi., Psikolog, dengan tujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai dampak penggunaan gadget yang berlebihan terhadap kesehatan mental, emosional, dan sosial remaja. Dalam sesi ini, peserta diajak mengenali batasan penggunaan gadget yang sehat serta pentingnya keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan edukatif dan komunikatif, psikoedukasi ini diharapkan dapat membantu remaja menjadi lebih bijak dalam menggunakan gadget, menjaga kesehatan mental, serta mendukung tumbuh kembang yang optimal di masa remaja. RS PKU Aisyiyah Boyolali berkomitmen untuk terus mendukung upaya promotif dan preventif melalui kegiatan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Yuk simak keseruan kegiatan Edukasi Kesehatan: Bahaya Penggunaan Gadget Berlebihan pada Remaja berikut :https://www.instagram.com/p/DTOyB6cCSPG/

Edukasi Kesehatan: Bahaya Penggunaan Gadget Berlebihan pada Remaja Read More »

Kenali Gejala Cacingan Sejak Dini, Lindungi Tumbuh Kembang Anak

Kenali Gejala Cacingan Sejak Dini, Lindungi Tumbuh Kembang Anak Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh SahabatPKU 🙏 Cacingan masih sering dianggap sebagai penyakit ringan, terutama pada anak-anak. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi cacing dapat menimbulkan dampak kesehatan yang cukup serius dan mengganggu tumbuh kembang anak. Cacing yang hidup di dalam usus dapat “mencuri” nutrisi penting yang seharusnya diserap tubuh. Akibatnya, penyerapan zat gizi di usus halus menjadi terganggu. Kondisi ini membuat anak mudah lelah, berat badan sulit naik, dan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Pada beberapa kasus, infeksi cacing bahkan dapat menyebabkan masalah kesehatan lanjutan seperti anemia atau kurang darah, terutama bila terjadi dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, cacingan tidak boleh diremehkan dan perlu dikenali sejak dini. Gejala Umum Cacingan Beberapa tanda dan gejala cacingan yang perlu diwaspadai antara lain: Gangguan pencernaan Perubahan pola buang air besar Penurunan berat badan atau nafsu makan Mudah lelah Gatal di area anus Cacingan dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, anak-anak lebih rentan mengalaminya karena sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya sempurna serta kebiasaan bermain yang meningkatkan risiko paparan telur cacing. Sebagian besar jenis cacing yang menginfeksi manusia memang hanya menimbulkan gejala ringan. Meski demikian, Sahabat PKU tetap dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga medis apabila mencurigai adanya infeksi cacing, agar penanganan dapat dilakukan lebih awal dan mencegah komplikasi. Pencegahan dan Penanganan Upaya pencegahan cacingan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan makanan, serta rutin memotong kuku anak. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan yang tepat akan membantu anak kembali sehat, ceria, dan aktif bermain. Mari bersama-sama lebih peduli terhadap kesehatan buah hati dengan mengenali gejala cacingan sejak dini. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila terdapat keluhan yang mengarah pada infeksi cacing. RS PKU Aisyiyah Boyolali siap mendampingi Sahabat PKU dalam menjaga kesehatan keluarga 🤍🪱Yuk simak penjelasannya di link berikut :https://www.instagram.com/p/DTH4eaikWw8/?img_index=4

Kenali Gejala Cacingan Sejak Dini, Lindungi Tumbuh Kembang Anak Read More »

Peduli Pulih Bersama: RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Tim Kemanusiaan untuk Penyintas Banjir

Peduli Pulih Bersama: RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Tim Kemanusiaan untuk Penyintas Banjir Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh SahabatPKU 🙏 Bismillahirrahmanirrahim. Sebagai wujud nyata kepedulian dan pengabdian kemanusiaan, RS PKU Aisyiyah Boyolali kembali mengambil peran aktif dalam misi sosial dengan memberangkatkan Tim Medis serta Rehabilitasi–Rekonstruksi untuk membantu pemulihan masyarakat yang terdampak bencana banjir di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Keberangkatan tim ini merupakan bentuk komitmen RS PKU Aisyiyah Boyolali dalam menghadirkan layanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif di fasilitas rumah sakit, tetapi juga menjangkau masyarakat yang membutuhkan di situasi darurat dan pascabencana. Kehadiran tenaga kesehatan di lokasi bencana diharapkan dapat membantu penanganan medis awal, mendukung proses pemulihan, serta mempercepat kembalinya kualitas hidup para penyintas. Adapun tim yang diberangkatkan dalam misi kemanusiaan ini adalah:👩‍⚕️ dr. Della Bintari Pratiwi (Dokter Umum)👨‍💼 Argian Prihatnala (Staf Humas) RS PKU Aisyiyah Boyolali menyampaikan apresiasi dan doa terbaik kepada seluruh tim yang menjalankan tugas mulia ini. Semoga setiap ikhtiar, tenaga, dan langkah pengabdian yang diberikan dapat membawa harapan baru, memperkuat ketangguhan para penyintas bencana, serta menjadi amal jariyah yang diridhai Allah SWT. Semoga tim senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran selama menjalankan misi kemanusiaan.Teruslah menebar manfaat dan semangat melayani 🤍🕊️ Yuk simak kegiatan Peduli Pulih Bersama: RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Tim Kemanusiaan untuk Penyintas Banjir :https://www.instagram.com/p/DTCTZEkEQ-8/

Peduli Pulih Bersama: RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Tim Kemanusiaan untuk Penyintas Banjir Read More »

Mitos dan Fakta Seputar Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD)

Mitos dan Fakta Seputar Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan salah satu layanan vital di rumah sakit yang berfungsi menangani kondisi kegawatdaruratan medis. Namun, masih banyak persepsi keliru di masyarakat terkait alur dan fungsi pelayanan IGD. Berikut beberapa mitos dan fakta yang perlu diketahui bersama. Mitos: Pasien yang Datang ke IGD Otomatis Harus Dirawat Inap Fakta: Tidak semua pasien yang datang ke IGD harus menjalani rawat inap. Pasien yang datang ke IGD akan terlebih dahulu menjalani pemeriksaan dan penanganan awal oleh tenaga medis. Selanjutnya, dokter akan menentukan langkah medis yang paling tepat, apakah pasien perlu dirawat inap, diperbolehkan pulang dengan pengobatan jalan, atau dirujuk ke layanan kesehatan lain. Keputusan tersebut sepenuhnya didasarkan pada kondisi medis dan kebutuhan klinis pasien, bukan semata-mata karena pasien datang melalui IGD. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa pelayanan gawat darurat bertujuan untuk menstabilkan kondisi pasien dan menentukan tindak lanjut yang paling sesuai secara medis, sehingga tidak semua kasus membutuhkan perawatan lanjutan di ruang rawat inap. Fakta: IGD Melayani Berbagai Kondisi Gawat Darurat, Bukan Hanya Kecelakaan IGD tidak hanya menangani korban kecelakaan lalu lintas atau trauma fisik. Berbagai kondisi medis yang bersifat gawat dan mengancam nyawa juga menjadi prioritas pelayanan IGD, seperti sesak napas, nyeri dada, stroke, kejang, perdarahan hebat, hingga penurunan kesadaran. Pelayanan di IGD dilakukan berdasarkan sistem triase, yaitu proses penilaian awal untuk menentukan tingkat kegawatan pasien. Sistem ini memastikan bahwa pasien dengan kondisi paling kritis mendapatkan penanganan terlebih dahulu, sesuai dengan prinsip keselamatan pasien dan standar pelayanan kegawatdaruratan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan WHO menyatakan bahwa penerapan triase merupakan bagian penting dari sistem pelayanan gawat darurat yang efektif dan berkeadilan, guna mengoptimalkan sumber daya dan meningkatkan angka keselamatan pasien. Penutup Pemahaman yang tepat mengenai fungsi dan alur pelayanan IGD sangat penting agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan secara bijak. IGD hadir untuk memberikan pertolongan cepat dan tepat pada kondisi gawat darurat, dengan keputusan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Dengan informasi yang benar, diharapkan masyarakat tidak lagi ragu atau salah kaprah dalam mengakses layanan IGD, sehingga keselamatan dan kualitas pelayanan kesehatan dapat terus ditingkatkan. Yuk simak pembahasannya di link berikut :https://www.instagram.com/rspkuaisyiyah/reel/DTuNSrjEbGk/

Mitos dan Fakta Seputar Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Read More »

Fenomena “Man Flu”: Benarkah Pria Lebih Rentan Saat Demam?

Fenomena “Man Flu”: Benarkah Pria Lebih Rentan Saat Demam? Assalamu’alaikum, Sahabat PKU 👋 Pernahkah terpikir mengapa sebagian pria tampak sangat kuat saat mengalami luka, jatuh, atau cedera fisik, namun ketika terserang demam atau flu ringan justru terlihat lebih lemas dan banyak mengeluh? Fenomena ini kerap dianggap berlebihan, padahal kondisi tersebut memiliki dasar penjelasan ilmiah. Dalam dunia medis, kondisi ketika pria menunjukkan respons gejala flu yang lebih berat dibandingkan wanita dikenal dengan istilah man flu. Istilah ini merujuk pada perbedaan respons biologis tubuh pria dan wanita terhadap infeksi, khususnya infeksi saluran pernapasan seperti influenza dan pilek. Secara fisiologis, saat seseorang mengalami cedera fisik, tubuh akan mengaktifkan mekanisme nyeri lokal. Hormon stres seperti adrenalin dilepaskan untuk menekan rasa sakit sementara, meningkatkan fokus, serta mempertahankan fungsi tubuh. Kondisi ini membuat individu—termasuk pria—tetap tampak kuat meskipun mengalami luka. Namun, situasinya berbeda ketika tubuh menghadapi infeksi sistemik seperti flu atau demam. Demam merupakan respons pertahanan tubuh secara menyeluruh terhadap patogen. Suhu tubuh meningkat, metabolisme berubah, energi menurun, dan tubuh membutuhkan lebih banyak waktu untuk pemulihan. Kondisi ini menyebabkan rasa lemas, nyeri otot, dan ketidaknyamanan yang lebih terasa. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa respons sistem imun pria dan wanita tidak bekerja dengan cara yang sama. Wanita cenderung memiliki respons imun yang lebih cepat dan kuat terhadap infeksi virus, salah satunya dipengaruhi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan aktivitas sel imun. Sebaliknya, pada pria, hormon testosteron diketahui memiliki efek imunosupresif ringan sehingga respons imun dapat berlangsung lebih lambat dan gejala flu terasa lebih berat serta berlangsung lebih lama. Perbedaan biologis berdasarkan jenis kelamin merupakan faktor penting dalam respons imun, manifestasi penyakit, dan proses pemulihan. Oleh karena itu, persepsi bahwa pria “lebih lemah” saat flu tidak sepenuhnya tepat, karena kondisi tersebut berkaitan dengan perbedaan mekanisme kerja tubuh, bukan semata persoalan daya tahan mental. Dengan demikian, fenomena man flu bukanlah soal dramatis atau tidaknya seseorang, melainkan cerminan dari variasi biologis manusia. Menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat, asupan gizi seimbang, istirahat cukup, serta aktivitas fisik teratur tetap menjadi kunci utama pencegahan penyakit. Apabila demam atau gejala flu tidak kunjung membaik, segera lakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan. Sehat adalah tanggung jawab bersama 🌿 Yuk simak penjelasannya di link berikuthttps://www.instagram.com/p/DT4dUVFCfJX/

Fenomena “Man Flu”: Benarkah Pria Lebih Rentan Saat Demam? Read More »

RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Relawan Kesehatan ke Daerah Bencana Sumatra

RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Relawan Kesehatan ke Daerah Bencana Sumatra RS PKU Aisyiyah Boyolali melepas dua relawan kesehatan, dr. Della Bintari Pratiwi dan Argian Prihatnala, untuk bertugas di daerah terdampak banjir di Sumatra, Jumat (2/1/2026). Keduanya akan bergabung dalam satu Tim Kesehatan bersama RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta. Tim relawan dijadwalkan berangkat melalui Bandara Ahmad Yani Semarang pada Sabtu (3/1/2026) dan akan melaksanakan tugas kemanusiaan selama dua pekan, mulai 4 Januari hingga 17 Januari 2026, di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Direktur RS PKU Aisyiyah Boyolali, dr. Zahrosofi Ahmadah, MARS, dalam sambutan pelepasan relawan berpesan agar penugasan tersebut diniatkan sebagai ibadah. “Ibadah bukan hanya ritual seperti salat, puasa, atau haji. Ibadah memiliki makna yang luas, yakni seluruh aktivitas yang diwujudkan sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan,” ujarnya. Acara pelepasan relawan tersebut turut dihadiri Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan, Drs. Thontowi Jauhari, SH, M.Si, serta Kepala Bidang Administrasi dan SDI (Sumber Daya Insani), Purwani, S.Kep., Ners., MARS. Menurut dr. Zahrosofi, membantu meringankan penderitaan para korban bencana merupakan bentuk ibadah kemanusiaan yang bernilai tinggi, bahkan dapat dimaknai sebagai jihad kemanusiaan. “Oleh karena itu, kami berharap dr. Della dan Mas Yayo menjalani tugas ini dengan penuh keikhlasan. Tanpa keikhlasan, pekerjaan berat akan terasa semakin berat. Dengan keikhlasan, pekerjaan seberat apapun akan menjadi ringan. Seberat apa pun tugas relawan, penderitaan korban bencana jauh lebih berat,” tuturnya. Ia juga berharap keberkahan dari pengabdian para relawan dapat mengalir kepada RS PKU Aisyiyah Boyolali sehingga rumah sakit ini semakin menjadi unggul dan berkemajuan. “Menjadi relawan kemanusiaan adalah bagian dari sikap takwa, yakni ketaatan kepada Allah. Manusia diperintahkan untuk saling menolong dan menebarkan kasih sayang. Orang-orang bertakwa dijanjikan kemudahan oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya. Sementara itu, dalam kata pamitannya, dr. Della Bintari Pratiwi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. “Bagi saya, ini adalah panggilan profesi. Saya telah lama menginginkan menjadi relawan kesehatan di daerah bencana untuk mengamalkan ilmu kedokteran yang saya miliki. Ketika ditawari untuk berangkat ke Sumatra, saya langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang,” ujarnya. Saat ditanya mengenai beratnya tugas sebagai relawan kesehatan di daerah bencana, dr. Della menjawab singkat, “Itu justru tantangan. Saya menyukai tantangan.” MDMC Kerahkan Relawan Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengerahkan ratusan relawan untuk memberikan layanan darurat bagi para penyintas banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Bencana tersebut dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Seyar yang terjadi sejak 25 November 2025, sehingga menyebabkan kerusakan luas serta korban jiwa. MDMC telah mengirimkan tim asistensi tanggap darurat dan mengoordinasikan pengerahan tim-tim profesional dari regional Sumatra dan wilayah Jawa, termasuk Tim Kesehatan, sesuai kebutuhan daerah terdampak. Menurut Purwani, yang juga merupakan anggota Tim Kesehatan Emergency Medical Team (EMT) PP Muhammadiyah, seluruh Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) di Indonesia dikerahkan untuk mengirimkan tim medis. “Pada prinsipnya, setiap RSMA diminta mengirimkan satu tim. Namun karena keterbatasan personel, RS PKU Aisyiyah Boyolali mengirim dua relawan yang bergabung dengan RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta,” jelasnya. Ia menambahkan, pada 3 Januari 2026 terdapat tiga tim yang diberangkatkan, yakni dari RS PKU Muhammadiyah UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), RSU Muhammadiyah Siti Aminah Bumiayu, Brebes dan Tim gabungan dari RS PKU Aisyiyah Boyolali dan RSMuhammadiyah Gamping Yogyakarta. Pengiriman tim medis dari RSMA dijadwalkan secara bergilir hingga Februari 2026.

RS PKU Aisyiyah Boyolali Kirim Relawan Kesehatan ke Daerah Bencana Sumatra Read More »

× Customer Service