Artikel

HUBUNGAN TUBERKULOSIS DAN ROKOK

HUBUNGAN TUBERKULOSIS DAN ROKOK

Dr Reviono, dr.,SpP(K)

 

EPIDEMIOLOGI

Indonesia pada peringkat kedua setelah India dalam menyumbang kasus tuberkulosis (TB) di dunia. Diperkirakan terdapat 10 juta kasus baru yang muncul setiap tahunnya. Indonesia. WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 840.000 kasus baru dengan perkiraan 130.000 penderita baru infeksius, karena pada dahaknya didapatkan bakteri tahan asam (BTA). Demikian data dari Depkes yang diungkapkan di Jakarta, tahun 2004 lalu. The World Health Organization (WHO)menyampaikan lebih dari 4 juta kematian pertahun berhubungan dengan rokok. Hal ini menggambarkan bahwa diperkirakan akan terjadi peningkatan10 juta kematian pertahun pada tahun 2030, dengan 70% dari angka kematian tersebut terjadi di negara berkembang.

Merokok merupakan faktor risiko TB. Hubungan merokok dengan TB sudah diselidiki sejak tahun 1918. World Health Organization menyatakan konsumsi rokok menduduki peringkat empat dari sepuluh faktor risiko masalah kesehatan. Rokok sebagai faktor risiko TB meningkat secara substansial selama tiga dekade terakhir, terutama di negara berkembang. Prevalensi pertumbuhan merokok terbanyak pada wanita, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah seperti di Afrika dan Asia. Penelitian terbaru di India menyatakan TB menyebabkan kematian lebih dari dua kali lipat pada perokok dibanding bukan perokok. Suatu penelitian di RS Taksin Thailand menunjukkan bahwa perokok aktif mempunyai risiko tinggi menderita tuberkulosis 3 kali lipat dibanding bukan perokok. Umur mulai merokok antara 15 – 20 tahun, lama merokok > 10 tahun, merokok > 10 batang/hari atau > 3 hari/minggu merupakan risiko tinggi menderita TB. Demikian juga perokok pasif yang terpajan > 3 kali/minggu mempunyai risiko 3 kali lipat dibanding perokok pasif yang terpajan < 3 kali/minggu. Penelitian serupa juga dilaporkan di Tamil Nadu India yang memperlihatkan angka kematian medis pada perokok 2 kali lipat dibanding bukan perokok. Sepertiga kematian pada perokok terjadi pada penyakit respirasi dan terutama berhubungan dengan TB. Merokok terbukti meningkatkan insiden TB dan berhubungan dengan setengah kematian TB di India yang sebagian besar terjadi pada usia produktif.

Penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan hubungan antara merokok dan TB. Mereka berpendapat hubungan tersebut disebabkan peningkatan risiko TB laten menjadi aktif lebih tinggi pada perokok dibandingkan bukan perokok. Data di Cina menemukan duapertiga pasien TB adalah perokok dan di India dari 1,85 juta kasus TB lebih dari setengahnya adalah perokok.Penelitian Wang di Cina juga menyatakan pajanan pasif dan aktif  asap rokok terbukti berhubungan dengan infeksi TB, perkembangan penyakit TB, dan prognosis TB. Penelitian yang dilakukan Wen di Taiwan menyatakan bahwa perokok memiliki angka kematian karena TB sangat tinggi yaitu sembilan kali lipat dibanding bukan perokok, tetapi begitu merekaberhenti risiko berkurang secara substansial dan mirip dengan mereka yang tidak pernah merokok. Risiko TB dapat dikurangi hampir dua pertiga jika berhenti merokok.9Kematian akibat TB di India berhubungan dengan kebiasaan merokok sekitar 20% sedangkan di Indonesia TB adalah salah satu penyebab utama kematian pada perokok.

ASAP ROKOK

Asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia seperti nikotin, CO, NO, HCN, NH4, acrolein, benzaldehyde, urethane, benzene, methanol, coumarin, etilkatehol-4, ortokresol, perilen, dan lain-lain. Selain komponen gas, ada komponen padat atau partikel yang terdiri dari nikotin dan tar. Tar mengandung bahan karsinogen sedangkan nikotin merupakan bahan adiktif yang menimbulkan ketergantungan atau kecanduan. Kebiasaan merokok itu telah terbukti berhubungan dengan sekitar 25 jenis penyakit pada berbagai organ tubuh, antara lain kanker saluran pernafasan hingga paru, kandung kemih dan penyakit pembuluh darah Ketagihan merokok disebabkan oleh nikotin di dalam tembakau, yang memiliki sifat merangsang (lemah) terhadap SSP dan menyebabkan euforia serta menghilangkan perasaan mengantuk

Secara umum rokok terbagi atas komponen gas atau asap dan komponen padat atau partikel. Komponen gas yaitu karbonmonoksida (CO), asetaldehid, aseton, metanol, nitric-oxide (NO), hidrogen sianida, akrolen, amoniak, benzen, formaldehid, nitrosamin, vinilklorida, dan oksidan. Komponen padat atau partikel terdiri atas nikotin dan tar.Komponen asap rokok seperti akrolein, asetaldehid, formaldehid, produk radikal bebas, dan NO menyebabkan perubahan struktur saluran napas berupa inflamasi peribronkial, fibrosis saluran napas, peningkatan permeabilitas mukosa, gangguan pengeluaran mukus, dan gangguan pada epitel saluran napas.Stres oksidatif berperan pada patogenesis tuberkulosis.Mycobacteriumtuberculosis memicu produksi ROS dengan mengaktivasi fagositosis.Perubahan ROS menyebabkan inflamasi, kerusakan jaringan, dan berperan dalam imunosupresi. Pasien TB mempunyai kapasitas antioksidan yang rendah dan stres oksidatif yang tinggi.

Nikotin merupakan partikel padat yang sangat mudah diserap oleh selaput lendir mulut, hidung, dan jaringan paru.3 Satu batang rokok mengandung kurang lebih 8,4 mg nikotin. Ketika rokok terbakar, nikotin akan mengalami aeroliasi kedalam bentuk tar dan mencapai jumlah 1,6 mg/batang. Asap rokok yang terinhalasi dapat mencapai saluran napas kecil dan alveoli. Nikotin yang diabsorbsi dalam sirkulasi paru sekitar 82-92% dan akan segera terdistribusi ke otak dan jantung. Waktu distribusi sangat pendek yaitu 8 menit dan tereliminasi dalam waktu 2 jam.

 ilustrasi-infeksi-paru-paru--istockphoto_ratio-16x9

HUBUNGAN MEROKOK DENGAN TUBERKULOSIS

Hubungan merokokdengan risiko terinfeksi TB dan perkembangan penyakit setelah terinfeksipenyakit TBtelah dilaporkansecara substansial. Merokokpasif dan aktifterbukti berhubungandengan infeksiTBdan perkembangan penyakit TB.

Risiko terkena TB pada perokok  meningkat secara signifikan sesuai dengan jumlah rokok/ hari dan lama merokok

  • Merokok terbukti memperburuk klinis dan prognosis pasien tuberkulosis (TB)
  • Perbandingan antara perokok dan bukan perokok :
  • Kemungkinan lebih besar berkembang menjadi TB aktif
  • Meningkatkan terjadinya uji tuberkulin positif
  • Merasakan gejala respirasi (batuk, sesak napas) lebih berat
  • Berisiko lesi radiologi berat (kavitas, milier)
  • Kemungkinan TB relaps lebih besar
  • Risiko kematian lebih tinggi
  • Pada perokok pasif (anak) risiko terjadi TB lebih besar
  • Merokokmempengaruhimanifestasiklinis TB. Gejala batuk, sesak napas dan gambaran radiologi yang lebih berat pada perokok dibanding bukan perokok. Kultur sputumpositiflebih cenderungditemukan pada perokok dibandingkan bukan Tuberkulosis pada perokok lebih menular daripada penderita TB yang tidak merokok.1 Chiang menyatakan bahwa merokok tidak ada kaitannya dengan konversi sputum dan kultur setelah 2 bulan pengobatan anti-TB. Uji klinis imunoterapi dalam pengobatan TB menunjukkan bahwa semakin lama waktu untuk konversi antara perokok dibandingkan tidak perokok.
  • Kebiasaan merokok mempengaruhi progresivitas TB paru dan terjadinya fibrosis.Penelitian Shprykor dan Zhadnov di Rusia menyatakan bahwa perokok mempuyai kerusakan jaringan paru yang lebih berat dan lambatnya perbaikan serta perawatan yang lebih lama di rumah sakit. Penelitian di Spanyol menyatakan bahwa perokok lebih mudah terkena TB pada mereka yang kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif.Memahami dampak rokok terhadap TB adalah sangat penting jika kita ingin mengontrol TB. Awal tahun 1900 di Amerika Serikat, mereka yang merokok dianjurkan untuk tidak merok
  • Dibandingkan bukan perokok, perokok mempunyai risiko lebih tinggi TB latent, TB aktif, dan meninggal karena TB. Mycobacteriumtuberculosis dapat bertahan dalam makrofag jika sistem kekebalan tubuh rendah. Orang dengan TB laten tidak memiliki tanda-tanda atau gejala penyakit, tidak merasa sakit, dan tidak infeksius. Basil M.tb dapat bertahan hidup dalam materi nekrotik selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup penyakit ini dapat aktif kembali jika sistem kekebalan tubuh terganggu. Koinfeksi dengan virus human immunodeficiency, diabetes melitus yang tidak terkontrol, sepsis, gagal ginjal, kekurangan gizi, merokok, kemoterapi, transplantasi organ, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat memicu reaktivasi infeksi.
  • Merokok meningkatkan kerentanan terhadap TB. Asap rokok merusak mekanisme pertahanan paru, mempengaruhi fungsi paru, merusak mukosa saluran napas, meningkatkan tahanan saluran napas, dan menyebabkan mudah bocornya pembuluh darah paru. Muccociliary clearance terganggu mengubah jumlah dan karakter mukus saluran napas. Pajanan asap rokok berperan penting dalam kolonisasi bakteri.
  • Asap rokok memicu stres oksidatif. Stres oksidatif meningkat pada perokok dan antioksidan pada makrofag alveolar menurun. Ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan menyebabkan kerusakan jaringan paru perokok. Kerusakan jaringan dipicu oleh stres oksidatif dan peningkatan ROS. Reactiv oxygen intermediet (ROI) perokok lebih tinggi dibanding bukan perokok. Reactiv oxygeni intermediet yang dilepaskan makrofag alveolar menyebar melalui mitogen-activated protein (MAP) kinase sebagai elemen respons serum, mengaktifkan nuclear factor-kappa β (NF-kβ). Aktivasi NF-kβ dihambat oleh antioksidan.

Menyediakan pelayanan bebas asap rokok kepada pasien dan tenaga kesehatan adalah yang dibutuhkan pertama untuk membantu pasien TB berhenti merokok.Tujuannya adalah pasien TB sadar akan bahaya rokok, keuntungan, konsultasi dengan petugas terhadap konsep pentingnya berhenti merokok dan lingkungan rumahnya bebas asap rokok. Koordinasi TS dimulai dengan diskusi materi kebijakan bebas rokok dan bagaimana pelaksanaannya.

 

TUBERCULOSIS SERVICE UNTUK MENCIPTAKAN 100% BEBAS ROKOK

 

Menyediakan pelayanan bebas asap rokok kepada pasien dan tenaga kesehatan adalah yang dibutuhkan pertama untuk membantu pasien TB berhenti merokok.Tujuannya adalah pasien TB sadar akan bahaya rokok, keuntungan, konsultasi dengan petugas terhadap konsep pentingnya berhenti merokok dan lingkungan rumahnya bebas asap rokok. Koordinasi TS dimulai dengan diskusi materi kebijakan bebas rokok dan bagaimana pelaksanaannya.

Pedoman WHO ini menyarankan pelayanan TB harus menyelesaikan langkah-langkah secara maksimal untuk membuat 100% bebas rokok melalui intervensi berhenti merokok dan menciptakan lingkungan sehat. Dampak intervensi berhenti merokok akan gagal bila manajer dan stafnya tidak melaksanakan kebijakan dengan serius. Koordinator bebas rokok yaitu seseorang dari TSyang bertanggung jawab memimpin persiapan, perkembangan, dan pelaksanaan kebijakan bebas rokok. Kemudian dibentuk tim yang terdiri dari berbagai tenaga ahli seperti manajer, dokter, tenaga administrasi, perawat, dan sukarelawan. Selanjutnya dimulai pendidikan dan komunikasi dengan tenaga kesehatan, pasien, dan keluarganya tentang rokok, pentingnya berhenti merokok dan perubahannya. Persiapan komunikasi kepada tenaga kesehatan difokuskan pada:

  1. Kerugian akibat rokok dan pajanan asap rokok, partikel asap rokok yang berhubungan dengan TB.
  2. Keuntungan berhenti merokok bagi kesehatan perokok dan keluarganya.
  3. Menganjurkan tenaga kesehatan untuk berhenti merokok.
  4. Membantu tenaga kesehatan untuk melihat diri mereka sebagai contoh dan menggalakkan pesan agar lingkungannya bebas rokok.
  5. Memberi informasi kepada tenaga kesehatan bahwa kebijakan bebas rokok akan segera diperkenalkan dan berharap semuanya akan menghormati serta berperan dalam pelaksanaannya.